Ekonomi Biru, Harapan Baru di Pulau Harapan Kepulauan Seribu
Oleh Arnudin
Pengelolaan sumberdaya alam yang berkelanjutan merupakan hal wajib yang harus dilakukan guna menjaga dan melestarikan alam sehingga kelak masih dapat dinikmati oleh generasi mendatang. Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia memiliki biodiversitas yang tinggi dan perlu upaya pengelolaan yang baik dan berkelanjutan. Namun, di sisi lain kondisi perkenonomian Indonesia dapat dikatakan belum sepenuhnya sejahtera sehingga prioritas pembangunan Indonesia lebih cenderung kearah pemanfaatan sumberdaya alam sebesar-besarnya dan kadang kala tidak memperhatikan kelestariannya. Dua pertiga wilayah Indonesia yang merupakan lautan masih belum cukup manjadi daya tarik utama dalam pengembangan pembangunan Indonesia dan konsekuensinya adalah minimnya perhatian pemerintah terhadap pengembangan potensi, kehidupan masyarakat, dan keberlanjutan pemanfaatan sumberdaya alam. Kondisi ini terjadi pada kawasan yang minim akses seperti Pulau-Pulau Kecil di Indonesia.
Pulau Harapan merupakan salah satu Pulau Kecil yang berada di Kawasan Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta yang kadang kala kurang mendapat perhatian pemerintah dikarenakan akses dan jarak yang jauh. Akan tetapi, Pulau ini dapat dikatakan lebih beruntung dibandingkan Pulau-Pulau Kecil lainnya karena termasuk daerah konservasi sekaligus daerah pariwisata sehingga terdapat fasilitas-fasilitas publik yang lebih baik. Posisi Pulau Harapan sebagai kawasan pariwisata mempunyai sisi positif dan negatif terhadap perkembangan ekonomi, sosial-budaya, dan lingkungan. Dari sisi ekonomi dan lingkungan, adanya para wisatawan memberikan kontribusi dalam peningkatan pendapatan dan lapangan pekerjaan, tetapi kurangnya pengelolaan dan pengawasan terhadap wisatawan justru dapat merusak lingkungan dan merugikan ekosistem laut di sekitar Pulau Harapan. Sedangkan dari sisi sosial-budaya mempunyai dampak positif dalam pengenalan kemajuan teknologi, informasi dan pengetahuan terhadap perkembangan dunia luar sehingga memberikan wawasan yang luas kepada masyarakat. Namun, budaya yang dibawa menyebabkan masyarakat cenderung akan kehilangan jati diri budaya lokal karena lebih tertarik dengan budaya yang dibawa oleh para wisatawan. Problematika yang terjadi di Pulau Harapan memerlukan solusi yang tepat tanpa merugikan pihak-pihak yang terkait. Oleh karena itu, solusi yang dapat ditawarkan untuk menjawab problematika tersebut adalah melalui penerapan konsep ekonomi biru (blue economy).
Apasih ekonomi biru? Ekonomi biru merupakan harapan baru untuk pembangunan di Indonesia yang mengutamakan pemanfaatan sumber daya alam bagi pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan masyarakat, dan kesehatan lingkungan (www.wwf.or.id). Poin penting yang mendasari ekonomi biru adalah konsep keberlanjutan (sustainable) lingkungan melalui cara kreatif, produktif, efisien dan inovatif dengan output zero waste (tanpa limbah). Munculnya konsep ini menjadi angin segar dalam pengembangan ekonomi kelautan yang ramah lingkungan. Pulau Harapan menjadi kawasan yang cocok dalam pengembangan konsep ini karena termasuk kedalam kawasan wisata, pemukiman, dan konservasi, yang mana ketiga elemen ini apabila saling bersinergi dapat tercipta kesejahteraan yang berkelanjutan tanpa saling merugikan satu sama lain.
Langkah-langkah strategis yang dapat dilakukan guna mendukung implementasi konsep ekonomi biru membutuhkan peran dan dukungan dari para stakeholder yang terkait, seperti pemerintah, akademisi, dan masyarakat itu sendiri. Salah satu bentuk nyata dari konsep ini adalah penerapan pariwisata yang berwawasan lingkungan, dimana para wisatawan diajak untuk menikmati laut melalui cara menjaga laut. Sebagai contoh wisatawan tidak hanya pergi ke laut untuk snorkeling ataupun diving tetapi mereka juga melakukan kegiatan konservasi laut seperti transplantasi karang ataupun penanaman mangrove. Hal ini dapat memberikan edukasi kepada wisatawan bahwa pentingnnya manjaga eksosistem laut dan tidak merusaknya. Implementasi lainnya yang dapat dilakukan adalah pemanfaatan mangrove menjadi produk olahan yang bernilai ekonomis tanpa harus menebang pohonnya. Produk yang dapat dihasilkan dapat berupa tepung, sirup, kosmetik, dan obat-obatan dari mangrove. Selain itu, produk ini juga dapat menjadi oleh-oleh khas yang dapat menjadi branding suatu wilayah. Sebagai contoh buah dari jenis mangrove Sonneratia caseolaris dan Sonneratia alba dengan nama lokal pedada atau bogem bisa dimanfaatkan sebagai bahan makanan, dan buah dari jenis Rhizophora sp. dapat dijadikan makanan walaupun masih sedikit yang memanfaatkannya (Santoso dkk, 2005). Langkah lain yang dapat diterapkan adalah pengolahan sampah dengan menerapkan prinsip 3R (reuse, reduce, dan recycle). Prinsip ini sangat penting untuk diimplementasikan di kawasan Pulau Kecil karena sempitnya wilayah dan jauhnya akses sehingga perlu adanya regulasi pengolahan limbah yang ramah lingkungan. Di Pulau Harapan prinsip ini sudah mulai diterapakan dengan adanya alat pembakaran sampah (insenerator) yang mampu mengubah sampah menjadi gas metan dan abu. Gas metan apabila diolah lebih lanjut dapat berpotensi manjadi sumber energi baru dan abu hasil pembakaran sampah organik dapat dijadikan pupuk, serta sampah anorganik seperti plastik mempunyai peluang untuk dijadikan bijih plastik yang bernilai ekonomis tinggi.
Pendekatan ekonomi biru yang menekankan pada konsep keberlanjutan diharapkan akan mampu mengatasi stigma negatif akibat kegiatan ekonomi yang melibatkan ekosistem. Paradigma ekonomi biru hanya akan menjadi konsep semata dan harapan belaka tanpa disertai implementasi, sinergi, strategi, konsistensi, dan kemauan yang kuat bukan hanya dari masyarakat tetapi juga para pemangku kepentingan yang terkait. Oleh karena itu, marilah kita bersama membangun negeri, terus berkarya dan mengabdi untuk mencapai kajayaan maritim Indonesia.

Comments
Post a Comment